Marhenyantoz's Blog

Trik dan Kiat Menghadapi Wartawan Tanpa Surat Kabar

Posted on: 15/03/2013

  • In: Tip dan Trik
  • Komentar Dinonaktifkan pada Trik dan Kiat Menghadapi Wartawan Tanpa Surat Kabar

Instansi, lembaga atau perusahaan biasanya menjadi salah satu obyek bagi pers untuk mencari informasi dan sumber berita. Informasi yang diperoleh dari hasil kerja reportase wartawan diharapkan dapat berguna bagi masyarakat yang membutuhkan informasi tersebut. Sebagai sebuah profesi luhur, kerja jurnalistik seorang wartawan tentu saja dilengkapi dengan identitas diri yang menunjukkan profesinya, termasuk surat kabar atau media yang menjadi bagian dari keberadaan wartawan tersebut ditengah-tengah masyarakat.

Disamping atribut identitas tersebut, wartawan yang memiliki tugas meliput aktivitas atau kegiatan di institusi lain, khususnya institusi publik, biasanya akan dilengkapi oleh TOR (term of reference) sebagai pedoman bagi wartawan untuk fokus pada tugas-tugas jurnalistik yang di berikan pimpinan redaksi kepadanya.

Disamping itu pula, wartawan yang diberikan tugas oleh pimpinan redaksinya meliput atau melakukan kegiatan reportase di institusi atau lembaga publik, biasanya lazim dan beretika untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak instansi/ lembaga tersebut atau kepada nara sumber yang relevan untuk dijadikan narasumber, baik sebagai key informan maupun informan. Tanpa konfirmasi, pihak instansi maupun lembaga yang hendak diminati keterangan oleh wartawan berhak menolak kehadiran wartawan tersebut.

Standard etika kerja jurnalistik itulah yang harus dipahami oleh instansi/ lembaga untuk menghadapi wartawan. Terutama wartawan yang kerap memaksakan kehendaknya untuk mencari informasi. Apalagi jika terbukti bahwa wartawan tersebut tidak mampu menunjukkan identitas pers yang melekat dalam dirinya. Termasuk pula tidak mampu menunjukkan maksud tugas-tugas jurnalistik yang diberikan kepadanya oleh pimpinan redaksinya.

Banyak kasus yang terjadi diberbagai sekolah, kantor kedatangan “watawan” yang ternyata bukan wartawan asli alias wartawan tanpa surat kabar (WTS), wartawan bodrek, atau apalah istilahnya. Wartawan semacam ini biasanya datang sendirian, kadang juga dua atau tiga orang bahkan lebih. Mereka bagi-bagi tugas seperti ada yang bertugas menggambil gambar dengan HP nya, ada yang membawa gulungan tabloid disertai tas kecil di pinggang entah apa isinya, serta seorang sebagai juru bicaranya.

Wartawan ini jika datang arasendirian, hampir sama dengan di atas, dengan membuka-buka HP (biasanya saat bertanya dia akan merekam apa yang kita bicarakan) untuk menakut-nakuti nara sumber. Mereka sama dengan membawa lipatan atau gulungan tabloid usang, biasaanya tabloid dua mingguan atau bulanan, sehingga tabloid yang dibawa lusuh gak karuan.

Kebiasaan yang terjadi wartawan ini gampang emosian, dengan berbagai kata-kata ancaman akan memuat berita di tabloidnya, dan kata-kata yang agak keras lainnya. Sepertinya agak mabuk gitu. Maklum model dan tata cara yang mereka lakukan seperti preman-preman itu.

Jika ditanya dan diminta menunjukkan soal kartu identitas wartawan memang mereka punya, kadang kita ragu apa asli atau palsu? Mengingat kartu ID Card kan mudah dibuat dengan biaya murah, toh kalau tampak asli wartawan koran bisa saja hasil scan.

Kelemahan orang-orang yang  sering didatangi wartawan semacam ini karena ada rasa “takut” mungkin perbuatannya ada yang salah. Kadang  juga tidak mau pusing dengan kehadiran wartawan yang ujung-ujungnya minta uang rokok. Sekali dia diberi amplop atau uang rokok, maka di kemudianhari teman-temannya akan berdatangan.

Ini bukan sebuah pengalaman pribadi dalam menghadapi wartawan WTS, karena sudah ada orang yang menangani. Ya hanya tahu, melihat, mendengar pembicaraan mereka karena terjadi di satu ruangan yang sama.

Bagaimana cara yang jitu, dan baik dalam menghadapi wartawan tanpa surat kabar seperti ini, berikut ada beberapa trik yang disampaikan para senior yang ditampilkan oleh mereka. Mudah-mudah menjadikan sebuah pelajaran bagi saya dan anda yang membutuhkan informasi bagaimana mengatasi WTS ini.

Cara Menghadapi Wartawan

  1. Perlakukan wartawan yang datang sebagai tamu –disambut ramah, dipersilakan masuk/duduk
  2. Tanyakan nama, nama medianya, dan jika perlu minta ditunjukkan identitasnya (Press Card). Jika meragukan, minta contoh medianya dan telepon kantor redaksinya untuk konfirmasi.
  3. Tanyakan maksud kedatangannya. Jika mau wawancara, layani dengan baik. Jika sekadar silaturahmi, ngobrol-ngobrol, layani saja layaknya tamu. Jika Anda sibuk, sampaikan saja baik-baik.
  4. Jika ia memeras, mengancam, atau sejenisnya, perlakukan dia sebagai “preman berkedok wartawan”. Dengan nada bercanda saya katakan, “Serahkan ke petugas kemanan atau laporkan ke polisi!”
  5. Jika ia “memelas”, minta “sesuatu” selain informasi, berarti dia “pengemis berkedok wartawan”, ia termasuk kaum dhuafa. Maka, dengan nada bercanda saya katakan, “Arahkan dia ke dinas sosial, lembaga amil zakat atau lembaga pemberdayaan fakir-miskin!”
  6. Jika ia mengancam menjelek-jelekkan citra sekolah atau lembaga Anda, biarkan saja, dia salah, mencemarkan nama baik, bisa dilaporkan ke Dewan Pers bahkan langsung ke polisi dengan dakwaan “pencemaran nama baik”. Lagi pula, saya bilang, “Biasanya dia dari koran abal-abal, biarin aja, gak ada yang baca kok!” Lebih penting lagi, jangan lakukan pelanggaran atau penyalahgunaan dana dan wewenang! Kalau “bersih”, mengapa harus takut? 

Atau baca juga pengalaman dwiki berikut :

Trik dan kiat menghadapinya antara lain:

  1. Menguasai situasi dan kondisi. Terutama penguasaan diri sendiri menghadapi situasi kritis. Dalam contoh di atas, yang dihadapi tidak satu orang, namun serombongan wartawan. Usahakan posisi kita menghadapi mereka dalam ruang publik, dimana banyak orang lalu lalang dan kita terlihat orang lain.
  2. Tetap bersikap sopan. Wartawan tanpa surat kabar juga manusia, yang perlu kita hargai dan jaga martabatnya. Jika kita bersikap sopan, mereka juga akan segan dan tidak akan bersikap macam-macam.
  3. Tidak hanyut dalam perangkap. Publikasi kegiatan tentang lembaga, badan atau organisasi kita memang penting untuk diketahui publik. Namun, bila menghadapi ‘ancaman’ boikot atau tidak mempublikasikan acara tetaplah berpegang pada kebijakan yang telah digariskan pada awalnya. Dalam contoh kisah di atas, karena saya sudah pegang daftar wartawan yang diundang resmi dan mereka tidak  diundang akhirnya bisa dimaklumi.
  4. Bersikap tegas. Katakan saja tidak (just say no) untuk setiap pertanyaan, permohonan yang ujung-ujungnya ‘amplop’. Kalau kita bersikap tegas untuk urusan yang satu ini, mereka juga tidak ngotot kok.
  5. Tidak menghindar. Mencuri-curi kesempatan untuk menghindar dari wartawan tanpa surat kabar tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita tetap akan dikejar kemanapun berusaha untuk menghindar. Hadapi saja mereka dengan kiat poin 1 hingga 4 di atas. Toh akhirnya mereka juga akan mundur secara teratur.

 

Watawan tanpa surat kabar  itu dapat ditangkap dengan menggunakan pasal 228 KUHP, karena mereka bekerja tanpa kapasitas.

Pasal 228 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) selengkapnya berbunyi “Barang siapa dengan sengaja memakai tanda kepangkatan atau melakukan perbuatan yang termasuk jabatan yang tidak dijabatnya atau yang ia sementara dihentikan daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

 

Iklan

Tebar Dakwah ….Cukup Klik Gambar

Download Doa Usai Shalat Fardhu (uji coba) file beda

Download Fatwa MUI


Download yg lainh di http://www.mui.or.id/index.php/fatwa-mui.html

Wakaf Al-Qur’an

Pengingat Hari ini

Marhaban Yaa Ramadan Mari kita isi bulan Ramadhan 1433 H dengan kegiatan yang penuh dengan amal ibadah untuk meraih insan yang fitri, serta mutaqin di akhir Ramadan

Translate to your language

Radio Online

Kajian.Net

Selamat

Daftar Isi

Slogan

Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

doctor ratings" Jika kejujuran kita miliki ..Kebenaran pasti menang..Kebatilan pasti Tumbang"

IP

IP

Blog Stats

  • 1,417,912 hits

Pengunjung dari ……

free counters

Arsip Tulisan

Peta Visitor

Majalah berilmu sebelum beramal dan berdakwahatau versi cetak "Cukup Berlangganan"

Link Gambar

Admin

Image by FlamingText.com

Pingin klik sajaFlamingText.com

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Hidayatullah.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Quick Counter

HTML hit counter - Quick-counter.net

Do’a Selepas Shalat

%d blogger menyukai ini: