Marhenyantoz's Blog

Budaya Kekerasan, siapa yang salah ?

Posted on: 29/10/2011

Kasus kekerasan di institusi pendidikan kita memang memprihatinkan. Efek domino muncul mengakibatkan tercorengnya predikat pelajar, mahasiswa, orang tua, apalagi guru. Pelajar dan mahasiswa kedepan adalah orang-orang Indonesia yang  diharapkan menjadi calon pemimpin-pemimpin bangsa, mestinya memberikan contoh baik bagi masyarakat, akulah calon pemimpin bangsa di masa mendatang. Masyarakat banyak akhir-akhir mulai memperbincangkan bagaimana peran orang tua dan guru selama ini dalam mendidik anak-anaknya? Adakah yang salah yang telah dilakukan guru selama mendidik di sekolah?

Barangkali kita masih ingat masa-masa kita sekolah dulu, entah beberapa puluh tahun yang lalu. Jika kita mengingat kembali apa saja yang dilakukan guru dalam mendidik muridnya, tentu ada yang berkesan dalam hati dan ada yang benci terhadap guru-gurunya karena sesuatu hal, bahkan ada rasa dendam sampai di bawa mati. Barangkali jika dihitung atau disensus data yang akan diperoleh terkait siswa yang memperoleh kesan buruk terhadap gurunya akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang memperoleh kesan terima kasih karena  telah dididik oleh guru sehinga menjadi orang sekarang ini.

Adakah yang telah dilakukan guru terhadap muridnya selama di sekolah itu salah?

Setiap pagi ketika murid dating ke sekolah di depan gerbang sekolah ada beberapa guru menyapa, menyalami anak-anak didiknya, terkadang jika kondisi tidak terlalu ramai dengan sapaan ;bagaimana kabarnya? Bagaimana keadaannya? dsb. Ketika di kelas jam pertama di mulai anak-anak di suruh berdoa sebelum memulai aktifitas, membaca Al Qur’an, hafalan surat-surat pendek dalam AL Qur’an walau hanya 15 menit. Dalam melatih kedisiplinan mematuhi tata tertib berpakaian, jika ada siswa yang bajunya tidak dimasukkan maka ditegur, rambut paanjang disuruh memotong, kuku panjang disuruh potong, sampai-sampai yang tidak memakai ikat pinggangpun ditegur oleh guru. Barmacam-macam kegiatan telah guru berikan, ekstrakurikuler berbagai cabang keilmuan, olah raga, seni, dsb. Setiap upacara hari senin selalu diberi nasehat sampai-sampai panas ditelinga karena nasehat-nasehat guru yang diulang-ulang terus. Sekiranya bisa bebas dari semua itu selama mengikuti pelajara disekolah dari jam 7.15 s/d 14.20, tentu bangsa ini mau jadi apa. Terima kasih guru.

Namun demikian semuanya tergantung pribadi masing-masing siswa dapat menyerap segala apa yang diberikan selama di sekolah, akibanyapun dapat berbeda-beda tiap siswa. Hal semacam ini mungkin saja banyak dipengaruhi sikap orang tua selama mendidik anak-anaknya di rumah. Hampir 2/3 waktu sehari anak berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, segala sesuatu bisa saja terjadi. Berbagai macam masukan ilmu, pengalaman, banyak diperoleh dari lingkungan selama mereka bergaul di masyarakat. Tentu akan sulit dikontrol oleh para orang tua. Tak sedikit juga orang tua tidak  berkesempatan mendidik anak-anaknya karena kesibukan waktu dengan berbagai alas an. Ketika anak tidak berada dalam pengawasan orang tua selepas sekolah segala sesuatu bisa saja terjadi, untuk itu orang tua semestinya dapat mengontrol segala kegiatan yang dilakukan anak-anaknya.

Kita ambilkan sebuah contoh, seorang anak yang tidak berada di rumah antara jam 19 s/d 21.00 dengan alas an belajar ditempat temannya. Apakah pernah orang tua mencoba mengecek kepada orang tua temannya yang rumahnya untuk belajar bersama, entah mendatangai langsung rumah si anak atau bisa melalui alat komunikasi lain dengan menayakan keberadaan anaknya tersebut?

Kegiatan semacam ini sepertinya sepele saja, kita tentu tidak mempercayakan sepenuhnya 100% kepada anak, namun kewaspadaan tetap diperlukan. Pendidikan demokratis tetap diberikan orang tua pada anak, namun demikian tidak semuanya bisa diberikan secara demokratis. Misalkan bagaimana anak jika telah mencapai usia yang cukup, perihal anak harus melaksanakan kewajiban shalat, tentu tidak aka nada toleransi apabila sampai terjadi anak tidak melaksanakan kewajiban shalatnya tanpa uzur yang syar’i.
Terkait dengan adanya budaya kekerasan di sekolah atau kampus, sedangkan guru dan orang tua mendapat sorotan yang tajam, untuk itu perlu segera dicari akar masalahnya. Secara internal perlu diidentifikasi semuanya, baik sekolah, guru, maupun orangtua. Secara eksternal, juga perlu dicari faktor-faktor apa yang paling mempengaruhi perilaku mereka yang senang dengan kekerasan.  Apakah karena lingkungan sekolah atau tempat tinggal para pelajar yang sangat permisif dengan aksi kekerasan, kurangnya perhatian orang tua ataukah terinspirasi oleh aksi kekerasan yang ditayangkan media massa baik tayangan berita ataupun acara lainnya.

Marilah kita secara bersama-sama mencari solusi yang tepat untuk mengatasi permaslahan ini secepatnya jangan samapi berlarut-larut. Semua komponen bangsa mesti ikut membantu memecahkan masalah ini, dalam rangka memperbaiki citra buru generasi penerus bangsa ini. Dengan semangat Sumpah Pemuda kita bangun generasi yang kokoh, kuat, berakhlaq serta bermoral yang mempunyai karakter pemuda yang penuh semangat untuk mengisi pembangunan di masa yang akan datang. Mari kita kikis habis bersama karakter bangsa ini yang telah “sukses”  seperti budaya korupsi.

Iklan

Tebar Dakwah ….Cukup Klik Gambar

Download Doa Usai Shalat Fardhu (uji coba) file beda

Download Fatwa MUI


Download yg lainh di http://www.mui.or.id/index.php/fatwa-mui.html

Wakaf Al-Qur’an

Pengingat Hari ini

Marhaban Yaa Ramadan Mari kita isi bulan Ramadhan 1433 H dengan kegiatan yang penuh dengan amal ibadah untuk meraih insan yang fitri, serta mutaqin di akhir Ramadan

Translate to your language

Radio Online

Kajian.Net

Selamat

Daftar Isi

Slogan

Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

doctor ratings" Jika kejujuran kita miliki ..Kebenaran pasti menang..Kebatilan pasti Tumbang"

IP

IP

Blog Stats

  • 1,370,286 hits

Pengunjung dari ……

free counters

Arsip Tulisan

Peta Visitor

Majalah berilmu sebelum beramal dan berdakwahatau versi cetak "Cukup Berlangganan"

Link Gambar

Admin

Image by FlamingText.com

Pingin klik sajaFlamingText.com

RSS Abiubaidah.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Hidayatullah.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Quick Counter

HTML hit counter - Quick-counter.net

Do’a Selepas Shalat

%d blogger menyukai ini: