Marhenyantoz's Blog

Posts Tagged ‘idul adha

  • In: Berita
  • Komentar Dimatikan

Menurut laporan astronom Saudi seperti dilansir emirates247.com, Selasa (22/10) Umat Islam akan melaksanakan ibadah haji  dua kali pada tahun 2039. Ini berarti, umat Islam merayakan tiga kali hari raya dalam satu tahun kalender. Ini berarti kita akan merayakan dua kali Idul Adha dan sekali Idul Fitri dalam satu tahun kalender.
“Selama tahun itu, haji ritual akan berlangsung pada 10 hari pertama Januari dan 10 hari terakhir bulan Desember, ” ungkap Abdullah Al Misnad, seorang profesor di universitas pemerintah di provinsi Saudi pusat Al Qaseem.

Abdullah mengungkap, pada tahun 2039, jamaah wukuf di Arafah dan berkurban pada 10 hari pertama bulan Januari dan berlanjut pada 10 hari terakhir bulan Desember.
Dasar dalam penentuan hari raya, Umat Islam memanfaatkan kalender bulan, yang memiliki jumlah hari 11-12 hari lebih pendek dari kalender konvensional.

Smber : Republika

Pemerintah menetapkan tanggal 1 Dzulhijjah 1433 H bertepatan Rabu 17 Oktober 2012 M, sedangkan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1433 H jatuh pada Jumat 26 Oktober 2012 M.

Keputusan dan penetapan ini setelah pemerintah melakukan Sidang Itsbat yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar di Auditorium KH M Rasjidi Kantor Kementerian Agama, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (15/10/12) malam. Waka Menteri  memutuskan dan menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1433 H adalah bertepatan dengan Hari Rabu 17 Oktober 2012 M dan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1433 H bertepatan dengan Hari Jumat 26 Oktober 2012 M,” kata Nazaruddin.

KEPUTUSAN MENTERI AGAMA TENTANG PENETAPAN TANGGAL 1 DZULHIJJAH 1433 H Download No 159 tahun 2012

Banyak yang menanyakan bagaimana jika Hari Raya atau Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’atnya gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied?

Mudah-mudahan penjelasan berikut dapat menjawab hal ini.[1]

Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied? Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.

Pendapat PertamaOrang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.

Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Dalil dari pendapat ini adalah:

Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)

Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”[2] Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.[3]

Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.

Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.”[4]

Pendapat KeduaBagi orang yang telah menghadiri shalat ‘Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum’at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.

Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:

Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».

“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.”[5]

Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalamAl Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.[6] Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.

Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[7] Jika sahabat mengatakanashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.

Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[8]

Kesimpulan:

  • Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.
  • Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
  • Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yangnomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.
  • Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[9]

Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).

  • Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).[10]

Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 28 Dzulqo’dah 1430 H.

 


[1] Pembahasan kali ini kami olah dari Shahih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/594-596, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[2] HR. Abu Daud no. 1052, dari Abul Ja’di Adh Dhomri. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[3] HR. Abu Daud no. 1067, dari Thariq bin Syihab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[4] HR. Bukhari no. 5572.

[5] HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310.

[6] Dinukil dari http://dorar.net

[7] HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[9] HR. Muslim no. 878.

[10] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.

Sumber : http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2789-bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita bersama-sama, dengan hati yang tulus ikhlas , bersih, memuji Allah, Dzat Yang Maha Mulia, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah menciptakan alam semesta dan seisinya ini. Marilah kita perkukuh kembali tauhid kita, bahwa tidak ada tuhan selain Allah, ia adalah maha besar dan segala puji-pujian hanyalah untuk-Nya. Allah adalah Dzat yang Maha Pencipta dan menguasai segala alam ini.

Selanjutnya, dengan sepenuh hati  marilah kita memohon dan berdoa, semoga shalawat dan salam tetap tercurah pada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw.,  keluarga dan shahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunah-sunah beliau  serta mencintainya.  Melalui utusannya, yaitu  Nabi besar Muhammad saw., kita mendapatkan tauladan, bimbingan dan petunjuk tentang hidup yang mulia, yaitu kehidupan yang diwarnai oleh keimanan, ketaqwaan, amal shaleh dan akhlakul karimah.

Alhamdulillah buka puasa disore tadi terasa nikmat sekali, setelah seharian puasa sunnah arofah. Mudah-mudahan amal ibdah puasa hari ini diterima Allah SWT dan semoga diridhoi dan mendapat ampunan segala dosa yang diperbuat setahun lalu dan setahun ke depan. Itulah hikmah puasa sunnah arofah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu, gema takbir mulai berkumandang. Inilah salah satu pengakuan kebesaran Allah, dengan  selalu bertakbir bertahmid bertahlil hingga 3 hari ke depan sampai habis hari tasriq 11,12 , 13 Dzul hijah.

Dalam Islam kita mengenal dua jenis hari raya, yaitu idhul fitri dan idhul adha. Idhul fritri diselenggarakan  setelah sebulan penuh kita semua menjalankan ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Pada idul adha, disebut sebagai idhul qurban maka idhul adha sangat erat kaitannya dengan ibadah haji, yaitu  rukun Islam yang ke lima, serta berkurban.

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS.Ali-Imron: 97).

Ada tiga hal yang harus menjadi perhatian kita bersama,  yang semuanya itu sangat penting sebagai bekal dalam menjalani hidup ini. Ketiga hal itu adalah pertama,    memperkukuh ketahuhidan; kedua, membangun semangat berjuang,  dan ketiga adalah  kesediaan untuk berkorban.   Pertama,  yaitu tentang tauhid adalah persoalan yang sangat mendasar dalam kehidupan kita ini. Sebagai syarat pertama seseorang menjadi selamat, baik di dunia maupun di akherat,  adalah karena keimanannya. Keimanan itu harus kokoh dan tidak boleh bercampur dengan keraguan sedikitpun.

Untuk memperkokoh ketauhidan itu dalam pelaksanaan haji tampak sedemikian jelas dari beberapa jenis kegiatannya. Misalnya, ucapan-ucapan yang dikumandangkan adalah suara tauhid. Jama’ah haji selalu dianjurkan untuk menyuarakan talbiyah, yaitu labbaika Allahuma labaik, labaika la syarikalaka labbaika, innal hamda wanikmata laka wal mulk laa syarikalaka. Jelas sekali bahwa kalimat-kalimat talbiyah yang dikumandangkan berulang-ulang tanpa henti itu mengingatkan tentang tauhid itu.

Pelajaran kedua yang harus kita tangkap dari ibadah haji dan idul adha,  adalah tentang perjuangan kemanusiaan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan ismail. Lewat sejarah perjuangan  hidup nabi Ibrahim kita ditunjukkan dengan sebuah perjuangan yang amat dahsyat. Lagi-lagi yang diperjuangkan oleh Nabi Ibrahim adalah tentang kesadaran eksistensi diri sebagai manusia hingga kemudian meningkat sampai meraih kesadaran bertauhid yang   kokoh.

Pelajaran penting dari riwayat Nabi Ibrahim, setidak-tidaknya  adalah tentang kesadaran kemanusiaan yang seharusnya dimiliki oleh siapapun. Bermodalkan dari kesadaran penciptaan kemanusiaan ini,  maka  lahir manusia unggul, yaitu manusia yang bertauhid. Manusia yang tahu  tentang  eksistensi dirinya.  Nabi Ibrahim yang gelisah untuk mengetahui siapa sebenarnya Tuhan-Nya,  ternyata kemudian menjadikannya sebagai kekasih Allah,  hingga ia disebut sebagai kholilullah.

Pelajaran ketiga yang seharusnya kita tangkap dari ibadah haji ( idul adha) adalah ajaran tentang keharusan berkorban. Berjuang agar berhasil, maka  harus diikuti oleh kesediaan untuk berkorban. Tidak akan pernah ada berjuang menjadi berhasil tanpa pengorbanan. Berjuang dan berkorban sama dengan dua mata uang yang harus menyatu. Nabi Ibrahin juga  telah memberikan tauladan tentang itu.

Maka tatkala anak itu mencapai umur dapat bekerja bersamanya , Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat di dalam mimpi bahwa Aku akan menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia berkata: “Wahai  bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada  engkau; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS As-Shaffat; ayat 102).

Pengorbanan nabi Ibrahim tidak tanggung-tanggung, yaitu  harus menyembelih anak satu-satunya yang  sangat  ia cintai, yaitu Ismail. Perintah menyembelih  Ismail itu,  ia dapatkan dari mimpi. Atas dasar jiwa  tauhid yang kokoh, maka perintah itu diterima dengan sabar dan ikhlas. Perintah itu dilaksanakan oleh keduanya, Ibrahim dan Ismail.

Semoga  Idul adha atau idul qurban kali ini berhasil memperkukuh jiwa tauhid, semangat berjuang,  dan berkurban hingga melahirkan kebersamaan, peduli yang lemah dan memiliki solidaritas kemanusiaan yang tinggi.



Uploaded with ImageShack.us

Tebar Dakwah ….Cukup Klik Gambar

Download Fatwa MUI


Download yg lainh di http://www.mui.or.id/index.php/fatwa-mui.html

Wakaf Al-Qur’an

Pengingat Hari ini

Marhaban Yaa Ramadan Mari kita isi bulan Ramadhan 1433 H dengan kegiatan yang penuh dengan amal ibadah untuk meraih insan yang fitri, serta mutaqin di akhir Ramadan

Translate to your language

Radio Online

Kajian.Net

Selamat

Daftar Isi

Slogan

Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

doctor ratings" Jika kejujuran kita miliki ..Kebenaran pasti menang..Kebatilan pasti Tumbang"

IP

IP

Blog Stats

  • 832,901 hits

Pengunjung dari ……

free counters

Arsip Tulisan

Peta Visitor

Majalah berilmu sebelum beramal dan berdakwahatau versi cetak "Cukup Berlangganan"

Link Gambar

Admin

Image by FlamingText.com

Pingin klik sajaFlamingText.com

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Hidayatullah.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Era Muslim

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Quick Counter

HTML hit counter - Quick-counter.net

Do’a Selepas Shalat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 70 pengikut lainnya.